Sistem Informasi Hisab dan Rukyat (SiHiRu): Menyatukan Pemahaman Dalam Kesaksian Hilal
Batasan-batasan untuk prediksi keberhasilan pengamatan hilal yang terjadi selama ini didasarkan oleh bermacam-macam kriteria, dan kriteria ini bukan berlandaskan oleh pengamatan astronomi, sehingga berbeda dengan kriteria yang biasa dipakai dalam astronomi. Sementara kepekaan mata setiap manusia untuk melihat sabit bulan yang redup masing-masing ada batasannya, maka cara melihat hilal secara langsung (tanpa alat) dengan mata telanjang yang seperti selama ini dilakukan sering menimbulkan perbedaan-perbedaan dalam hasil akhirnya. Perbedaan dalam hasil akhir pengamatan hilal inilah yang coba dijembatani oleh teknologi digital sebagai media pendukung dalam meningkatkan akurasi hasil pengamatan hilal untuk penetapan awal Ramadhan, i Syawal dan hari-hari besar Islam lainnya. Adalah Teropong Rukyat digital yang tersambung ke media internet melalui teknologi video streaming yang oleh Depkominfo bekerjasama dengan Depag, ITB Bosscha dan pihak terkait lainnya, digunakan dalam pengamatan hilal menjelang 1 Ramadhan dan 1 Syawal 1429 H. Bandung, Semarang, Lamongan, Banda Aceh, Kupang, Makassar, dan Condrodipo (Jawa Timur), merupakan 7 (tujuh) kota yang ditetapkan sebagai titik lokasi pengamatan. Hasilnya, cukup membuat masyarakat terpuaskan., karena secara live dapat mengikuti laporan hasil pengamatan hilal melalui media internet dan disebarluaskan melalui TVRI. Indikasi tingkat kepuasan publik, terukur melalui hasil wawancara yang dilakukan dengan masyarakat yang mengikuti proses rukyat. Hilal yang tidak tampak saat pengamatan, karena langit berselimut awan, meyakinkan masyarakat bahwa hilal memang tidak dapat terlihat, baik secara mata telanjang maupun dengan menggunakan teropong rukyat digital. Perselisihan pendapat dalam setiap pengamatan hilal menjadi menipis ketika teknologi teropong digital menyajikan hasil sesungguhnya yang akurat dan aktual kepada masyarakat. Dan, akhirnya perselisihan pendapat dikalangan umat muslim dalam setiap menentukan awal Ramadhan dan 1 Syawal, menjadi menipis, bahkan nyaris tidak terjadi ketika umat muslim menentukan awal 1 Ramadhan dan 1 Syawal. 1429 H. Masuknya teknologi informasi sebagai media bantu dalam pengamatan hilal telah menyempurnakan cara pengamatan yang selama ini dilakukan oleh berbagai kalangan, sehingga dengan integrasinya cara dan media bantu, termasuk sistem informasi pengamatan hilal, maka hasil akhir penampakan hilal akan lebih disepakati dan akurat. Sistem Informasi yang terintegrasi dalam bentuk Sistem informasi Hisab dan Rukyat (SIHIRu) akan menjadi solusi untuk lebih mencerahkan pemahaman masyarakat (utamanya umat muslim) terhadap kemunculan hilal, sebagai awal datangnya Ramadhan serta 1 Syawal dan hari-hari besar Islam lainnya. //yn
Ketersediaan
#
Perpustakaan Buku (B)
294 IND s
0000009787
Tersedia
Informasi Detail
- Judul Seri
-
-
- No. Panggil
-
294 IND s
- Penerbit
-
Jakarta :
Badan Penelitian dan Pengembangan SDM.,
2009
- Deskripsi Fisik
-
vii+65 hlm.; 14,5x20,5 cm.
- Bahasa
-
Indonesia
- ISBN/ISSN
-
-
- Klasifikasi
-
294
- Tipe Isi
-
text
- Tipe Media
-
-
- Tipe Pembawa
-
-
- Edisi
-
-
- Subjek
-
- Info Detail Spesifik
-
-
- Pernyataan Tanggungjawab
-
Indonesia. Departemen Komunikasi dan Informatika RI
Versi lain/terkait
Tidak tersedia versi lain
Lampiran Berkas
Tidak Ada Data
Anda harus masuk sebelum memberikan komentar