Text
Gaya Bahasa Story Telling dalam Penulisan Naskaн Feature Televisi "Filosofi Melayu” Edisi “Harmoni Pulau Penyengat dan Wisata Tanjung Pinang
Pulau Penyengat menyimpan beragam peninggalan sejarah kerajaan Melayu, seperti Masjid Raya Sultan Riau, kompleks makam raja Ali Haji dan Engku Puteri Raja Hamidah, dan Balai Adat Indera Perkasa. Di pulau ini juga tersimpan warisan budaya yang masih terjaga, diantaranya kuliner otak – otak dan Baju kurung khas Melayu. Tak hanya pulau penyengat, kota Tanjung Pinang juga memiliki beragam obyek wisata favorit wisatawan seperti Pantai Trikora, Trans Studio Garden, dan Patung Seribu serta memiliki kuliner khas, yakni nasi Lemak. Pada program ini, penulis mengambil jobdesk sebagai penulis naskah dengan menggunakan gaya bahasa story telling yang bertujuan untuk menyajikan narasi yang tidak monoton dengan kalimat yang indah namun mudah dipahami oleh penonton. Metode pengumpulan data yang penulis pakai menggunakan metode pengumpulan kualitatif yakni dengan teknik observasi dan wawancara. Hasil yang diperoleh dari produksi ini penulis dan tim menyajikan tayangan informatif kepada penonton seputar tempat bersejarah di Pulau Penyengat dan wisata di Tanjung Pinang melalui narasi yang tidak hanya menarik namun sesuai kaidah unsur visual story telling. Tetapi tidak semua unsur visual story telling tersebut penulis terapkan dalam setiap narasi. Penulis juga menerapkan unsur majas personifikasi yang fungsinya untuk memperindah kalimat serta mendukung penerapan visual story telling. Dalam karya ini, penulis menerapkan empat unsur visual story telling yaitu Clarity, Continuity, Intuity, dan Dynamic yang terdapat di setiap segmen untuk memperindah narasi yang ada untuk menyampaikan pesan dan informasi terkait topik yang dibahas kepada penonton.
Tidak tersedia versi lain