Text
Analisis Semiotika Untuk Mempresentasikan Disfungsi Keluarga Dalam Film Bolehkah Sekali saja Kumenangis
Film sebagai medium komunikasi massa tidak hanya menjadi media sarana hiburan, tetapi juga berperan penting dalam merepresentasikan realitas sosial termasuk dinamika keluarga yang disfungsional. Salah Satu film dengan genre drama keluarga adalah Film Bolehkah Sekali Saja Kumenangis sebagai objek pada penelitian ini. Tujuan Penelitian ini adalah menganalisis representasi disfungsi keluarga. Teori yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu menggunakan teori semiotika Ferdinand de Saussure yang meliputi konsep: signifier-signified, form-content, langue-parole, synchronic-diachronic, dan syntagmatic-paradigmatic. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Pengumpulan data dilakukan melalui teknik wawancara, observasi dan dokumentasi. Penelitian ini menganalisis 18 adegan kunci yang merepresentasikan ketujuh karakteristik disfungsi keluarga, yaitu konflik berkepanjangan, hubungan tegang, kekacauan, pengabaian, kekerasan, komunikasi buruk dan kurangnya empati. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam 18 adegan kunci merepresentasikan dari ketujuh karakteristik disfungsi keluarga yaitu, terdapat 17 adegan yang merepresentasikan konflik berkepanjangan, kemudian 16 adegan yang merepresentasikan hubungan tegang, 9 adegan yang merepresentasikan kekacauan, 12 adegan merepresentasikan pengabaian, 10 adegan merepresentasikan kekerasan. Selanjutnya, terdapat 18 adegan merepresentasikan komunikasi buruk, dan terakhir 16 adegan merepresentasikan kurangnya empati. Dari keseluruhan adegan kunci, karakteristik yang sering muncul adalah komunikasi buruk. Temuan ini menunjukkan bahwa komunikasi buruk tidak hanya menjadi titik awal, tetapi juga menjadi penguat utama dalam keberlangsungan disfungsi keluarga. Dengan demikian, disfungsi keluarga dalam film ini tergambarkan sebagai kondisi yang kompleks, berlapis, dan saling berkelindan.
Tidak tersedia versi lain