Text
Gaya Bahasa Story Telling Pada Feature Televisi Mata Harapan Edisi “Menguntai Cerita dalam Keterbatasan”
Penyandang disabilitas ialah mereka yang memiliki kekurangan dalam segi fisik, keterbatasan saat beraktivitas, kekurangan dan keterbatasan tersebut merupakan masalah bagi mereka apabila harus melakukan aktivitas secara pribadi. Disabilitas terdiri dari beberapa kategori salah satunya adalah penyandang disabilitas daksa. Keberadaan penyandang disabilitas justru seringkali mendapat deskriminasi dan hinaan dari lingkungannya, belum lagi pandangan dan stigma negative yang diberikan oleh masyakat bahwa penyandang disabilitas seolah tidak bisa melakukan apa-apa. Padahal, setiap individu, termasuk penyandang disabilitas, memiliki potensi, nilai, hak, dan tanggung jawab yang sama dengan anggota masyarakat yang lain. Untuk meminimalisir deskriminasi dan merubah stigma negative tersebut, diperlukan adanya pendidikan inklusif, yakni pendidikan yang memperkenalkan masyarakat pada keragaman dan potensi manusia, serta menampilkan contoh positif dari keberhasilan penyandang disabilitas. Penyandang disabilitas harus diberikan peluang dalam mengembangkan keterampilan soft skill agar memiliki kesempatan yang setara dalam dunia pendidikan dan pekerjaan. Terlebih lagi, penyandang disabilitas berhak hidup secara mandiri, berkontribusi, bekerja, dan mengembangkan diri tanpa hambatan dari keterbatasan fisik atau mental yang mereka miliki. Dalam hal untuk mencapai kemandirian tersebut, penyandang disabilitas ini membutukan perhatian penuh, sesuai dengan sendi-sendi kehidupan bangsa Indonesia yang berjiwa gotong royong dalam suatu wadah penampungan yang disebut yayasan. Metode yang diterapkan penulis dalam memperoleh data pada produksi ini adalah observasi lapangan, pendekatan dan wawancara dengan narasumber terkait, serta dokumentasi audio visual. Sebagai penulis naskah, penulis menerapkan Gaya Bahasa Story telling. Seperti Story telling menurut Cristian salamin (2007), memutar roda naratif. Dengan story telling orang orang diarahkan untuk mengidentifikasi diri dengan pola dan menyesuaikan diri dengan protocol. Berdasarkan Analisis penciptaan yang penulis jabarkan, diperoleh kesimpulan bahwa gaya bahasa story telling dapat penulis terapkan dalam karya produksi feature ini sehingga dapat memudahkan dalam penyampaian informasi cerita dengan runtut. \\\\r\\\\n\\\\r\\\\nKata Kunci : Penulis Naskah, Story Telling, Feature, Disabilitas, Yayasan Sayap Ibu
Tidak tersedia versi lain